Sabtu, 23 Juni 2012

Fenomena Korean Wave dan Dampaknya terhadap Kepribadian Remaja


Bab I
Pendahuluan
Tekhnologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat pada akhir decade ini tak hanya berdampak secara ekonomis. Secara sosiologis dan psikologis,  melesatnya perkembangan teknologi juga memiliki dampak yang maha dahsyat. Aspek sosiologis dan psikologis ini terdampak oleh karena pertarungan budaya-budaya dari seluruh penjuru dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kesempatan ini pertarungan budaya antar negara atau antar bangsa merupakan hal yang coba untuk dibahas.
Hiburan atau entertainment memang menjadi satu hal yang penting dan bahkan menjadi satu hal yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Hiburan ini didapatkan oleh manusia sala satunya dari media hiburan elektronik mulai dari radio, tv, hingga handphone yang kini telah dilengkapi berbagai macam fitur yang mutakhir menjadi onestop gadget.
Tapi piranti atau gadget yang paling menjadi pilihan adalah internet. Hal itu disebabkan internet merupakan gadget yang paling update dan luas jaringannya. Berbagai macam hiburan baik film, music, maupun gambar bisa didapat di sini secara gratis. Selain dari segi kualitas internet itu sendiri, secara kuantitas internet juga telah merambah wilayah pedesaan hingga pelosok berkat pelopor pemerintah maupun swasta. Kemudahan inilah yang membuat dunia menjadi terbentang luas tanpa batas. Berbagai budaya, bahkan dari kutub utara bisa mencapai Jepara paling utara. Manifestasi-manifestasi budaya itu banyak dikemas dalam berbagai bentuk seni hiburan.
Budaya dari tiap negara mempunyai cirri khasnya sendiri dan tiap negara akan direspon secara berbeda. Dalam hal ini budaya yang dibawa oleh negara Korea Selatan tengah menjadi trend yang sangat menonjol selama setahun terakhir. Boyband, girlband, dan drama seri Korea Selatan merupakan komoditi yang laris manis di Indonesia. Hallyu atau Korean Wave, istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global. Pesebaran akan budaya korea itu nampak dari berbagai hal. Pertama tayangan di televise kini kebanyakan menampilkan drama seri korea atau konser-konser boyband atau girlband Korea. Kedua trend music kita juga mengalami corak baru. Corak baru tersebut adalah munculnya beragam boyband dengan style yang mirip atau sealiran dengan boyband Korea. Sehingga tak pelak lagi boyband atau girlband dalam negeri ini sering dianggap plagiat.
Ketiga dari yang bisa diamati di setiap sudut kelas banyak gadis atau kelompok gadis yang histeris hanya karena membahas sekelompok boyband Korea idola mereka. Hingga muncul komunitas atau klub-klub yang terbentuk atas dasar siapa idola mereka. Klub-klub dari berbagai penjuru ini bahkan bertemu hanya untuk menonton bersama boyband idola mereka hingga menangis histeris. Kegiatan kopi mengkopi video atau lagu-lagu Korea menjadi hal yang biasa ditemui bahkan hingga di sudut-sudut kampus ternama. Di lapak-lapak penjual koran di kantin-kantin kampus tabloid-tabloid yang membahas boyband, girlband atau artis Korea Selatan juga semakin bertambah. Mode-mode baju juga kian mengalir kea rah Korean Style.
Dalam perbincangan sederhana dengan-dengan beberapa gadis-gadis di fakultas-fakultas pun artis Korea dan kesehariannya kian menjadi topik utama. Mengeluarkan uang berjuta-juta hingga berangkat ke luar negeri demi menonton konser artis pujaan pun dilakoni. Selanjutnya yang tak kalah menarik adalah banyak dari gadis-gadis yang memuja artis-artis Korea juga tertarik untuk belajar Bahasa Korea dan sejarah Korea secara serius. Terakhir yang juga menarik dan kadang ironi adalah para gadis ini tak jarang mengungkapkan keinginannya untuk tinggal bahkan menjadi warga negara Korea.
Betapa dahsyatnya gempuran budaya Korea sehingga budaya seni hiburan dalam negeri tak berdaya dibuatnya. Pemudi-pemudi negeri lebih memilih menonton tayangan Korea daripada tayangan lokal yang kerap dianggap menjiplak dan monoton. Masalah ini telah menjadi bahan kajian menarik di berbagai artikel berita. Hal itu disebabkan adanya kemungkinan atau anggapan bahwa budaya Korea ini akan berdampak buruk bagi kepribadian remaja, khususnya remaja putri. Apalagi tak sedikit dari para gadis ini yang akhirnya bahkan menerapkan standar pasangan sesuai artis Korea idaman mereka. Style, pasangan, preferensi hiburan, preferensi belajar bahasa asing, dan preferensi aliran music semua tak bisa dilepaskan dari bau-bau Korea.
Oleh karena beberapa hal tersebut di atas maka makalah ini akan mencoba menganalisis bagaimana remaja khususnya remaja putri dalam menilai atau mengolah informasi sehingga terbentuk fenomena Korean Wave di Indonesia serta  dampaknya bagi kepribadian mereka.

Bab II Deskripsi Gejala
            Dalam makalah ini juga akan disajikan beberapa data sekunder yang akan mendukung deskrisi gejala mengenai Fenomena Korean Wave.
a.       Maraknya Boyband dan Girlband asal Korea.
…..Dunia musik Indonesia juga tidak bisa menghindar dari Hallyu. Boyband dan girlband yang mengambil konsep Korea pun mulai bermunculan. Tren ini mungkin akan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Hal itu juga Bisa dilihat saat acara As1anniversary yang berlangsung pada 5 Januari 2012 di Twin Plaza Hotel. Walau acara tersebut dimaksudkan untuk penggemar J-pop dan K-pop, sebagian besar pengunjung adalah penggemar pop Korea…. (www.oktomagazine.com)
…..Demam K-Pop dan Drama Korea mulai menghinggapi sebagian besar remaja di negeri ini. Saat SUPER JUNIOR (SuJu) akan mengadakan Konser Super Show 4 di Jakarta, begitu banyak remaja kita yang rela antri sehari semalam hanya untuk mendapatkan tiket konser itu…. (www.sosbud.kompasiana.com)
…..Remaja kita kini sangat menggilai bintang-bintang Korea seperti Super Junior, Shinee, DBSK, SNSD, dan Wonder Girls. Apalagi para penggemar Super Junior yang menamakan diri mereka Komunitas ELF, singkatan dari Ever Lasting Friend….
…. Salah satu boyband asal Korea Selatan yang memiliki banyak fans di Indonesia dan terkenal tidak hanya di Asia bahkan Dunia serta cukup berpengaruh di industry musik asia adalah Super Junior.  Boyband yang beranggotakan 13 pria muda asal Korea Selatan ini memiliki penggemar di banyak Negara di  dunia terutama asia dan  Super Junior  merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji karena pasalnya boyband ini memiliki jutaan fans/penggemar yang tergabung dalam banyak fansclub yang juga tersebar diseluruh dunia….. (Obteteriana, 2011)

b.      Histeria Penggemar Boyband dan Girlband Korea
…..Super Junior  merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji karena pasalnya boyband ini memiliki jutaan fans/penggemar yang tergabung dalam banyak fansclub yang juga tersebar diseluruh dunia bahkan ada fansclub yang lingkupnya internasional, jadi anda harus mendaftar dan memiliki kartu member fansclub jika ingin menjadi fans resmi dan diakui menjadi fans Super Junior  yang kerap disebut ELF ini. Fansclub ini melakukan banyak kegiatan bersama misalnya menonton konser bersama, mengadakan acara gathering atau kumpul kumpul dan diskusi yang biasanya dilakukan via online lewat forum-forum diskusi di internet dan tema diskusinya tentu saja tentang idola mereka, Super Junior….. (Obteteriana, 2011)
….Para penggemar, terutama remaja, tak henti menggandrungi segala macam yang berhubungan dengan sang artis pujaan. Mulai dari aksesori yang di pakai, musik yang dibawakan oleh boyband, berita-berita yang sedang terjadi di Korea pun akan segera diketahui oleh penggila gelombang ini…. (www.oktomagazine.com)
…. Baru-baru ini, SONEs dari Indonesia dan Filipina menandatangani petisi untuk meminta konser SNSD di negara mereka. Dengan Asia yang sedang berlangsung Tour / pertunjukan di negara-negara seperti Jepang, Cina, Taiwan, Thailand, dll, permintaan dan menggila untuk para gadis memang meningkat……(www.primadona-minhwanfact.blogspot.com)
……Demam K-Pop dan Drama Korea mulai menghinggapi sebagian besar remaja di negeri ini. Saat SUPER JUNIOR (SuJu) akan mengadakan Konser Super Show 4 di Jakarta, begitu banyak remaja kita yang rela antri sehari semalam hanya untuk mendapatkan tiket konser itu. Bercermin dari harga tiket konser SuJu yang lumayan mahal, apakah kita tahu semua remaja itu berasal dari keluarga mampu yang memiliki tingkat ekonomi berlebih?.......(www.sosbud.kompasiana.com)
….Kikan (15) yang masih ABG itu begitu mengidolakan musik K-Pop. Saat tahu idola kesayangannya sang fenomenal SuJu akan menggelar konser “Super Show 4″ pada tanggal 28 dan 29 Mendatang di Mata Elang Internasional Stadium, Jakarta, Kikan begitu menggebu-gebu ingin mendapatkan tiket konser itu seperti teman-temannya. Mulailah ia merayu sang ayah agar bisa membeli tiket yang harganya lumayan mahal itu.
Jono berusaha memberi pengertian pada putri bungsunya itu. Jono mengatakan bahwa gajinya takkan cukup untuk hidup mereka sebulan jika Kikan tetap memaksa dibelikan tiket Konser Super Show 4 itu. Sayangnya, Kikan belum bisa memahami akan kesulitan ayahnya. Ia tetap ngotot minta dibelikan tiket konser itu. Bahkan Kikan ngambek tidak mau keluar kamar bila ayahnya tak memenuhi keinginannya….. (www.sosbud.kompasiana.com)
….Fenomena K-Pop dan drama Korea di negeri ini memang tak bisa terbendung lagi. Seharusnya orang tua bisa meyakini putra putri mereka bahwa tak perlulah sampai seperti itu mengidolakan artis Korea. Remaja kita kebanyakan telah termakan budaya luar. Apapun yang masuk ke negeri ini, berbondong-bondong diikuti. Alasan utamanya karena artis-artis Korea itu ganteng dan keren! Apalagi Drama Korea yang banyak ditayangkan di televise…. (www.sosbud.kompasiana.com)

c.       Konsep Tampan, Mode Baju dan Kuliner A La Korea yang mulai popular
…..Begitu juga berbagai jenis kuliner Korea mulai menjamur di Indonesia, contohnya, kimchi dan tteokbokki. Kalau di negara asalnya jajanan tersebut bisa ditemukan di hampir semua pusat perbelanjaan….(www.oktomagazine.com)
…. Namun, perlu diakui bahwa kuatnya karakter dan identitas para artis Korea mampu membuat mereka menjadi trendsetter baru dalam dunia musik, seni acting, fashion dan gaya hidup…. (www.oktomagazine.com)
… Konsep tampan itu kini menjadi homogen  bagi Super Junior, dan kesadaran yang mereka miliki adalah bahwa yang memiliki ciri ciri wajah seperti Super Junior -lah yang termasuk pria tampan. Homogenitas tentang criteria pria tampan dikonstruksikan atau dibentuk oleh media dan salah satu representasinya adalah Super Junior, hal ini (konstruksi ketampanan ini) yang juga menginspirasi salah satunya boyband SM*SH… (Obteteriana,2011)
….Jenis baju yang dijual pun bermacam-macam, salah satunya baju Korea import yang dijual dengan harga murah. Hal tersebut biasanya tidak lepas dari faktor permintaan masyarakat Indonesia yang sudah mulai memakai baju-baju asal negeri ginseng itu…. (www.gayakoreajepang.com)

d.      Populernya Bahasa Korea di Indonesia
…. Begitu tergila-gilanya, sampai-sampai diantara para pengggemar itu mempelajari bahasa Korea, “Supaya bisa berkomunikasi dengan sang pujaan,” kata salah satu diantara mereka saat diwawancarai OktoMagazine di acara As1anniversary…. (www.oktomagazine.com)
           
            Beberapa kutipan di atas menunjukkan bahwa demam Korea ataupun yang dalam bahasa Korea dikenal dengan Hayyul sudah merasuk dalam berabagai aspek dan bentuk manifestasinya yang bermacam-macam. Hal itu mulai dari gaya hidup, style, makanan, bahasa, hingga hysteria yang kadang agak berlebihan dari para penggemar boyband Korea.
           


Dari kutipan berita-berita di atas menjadi menarik untuk menjawab berbagai pertanyaan sebagai berikut:
a.       Bagaimana proses penilaian informasi atas seni budaya Korea sehingga memunculkan banyak hysteria dan perilaku meniru?
b.      Bagaimana dampak menggemari terlalu berlebihan dengan kepribadian remaja?
c.       Bagaimana proses ketertarikan atas artis Korea bisa begitu tingginya pada remaja?

Bab III Analisis Gejala
Untuk menganalisis gejala yang ada maka dalam tulisan ini akan dipakai beberapa teori.  

Kognisi Sosial
Kognisi social digunakan untuk  menerangkan cara-cara kita menginterpretasi, menganalisis, mengingat dan menggunakan informasi tentang dunia social. Dalam teori kognisi social ada yang disebut dengan skema. Skema akan sangat berpengaruh pada beberapa aspek kognisi social yang lain. Aspek itu adalah attention, encoding, dan retrieval. Dalam hubungannya dengan atensi, skema akan menyaring berbagai informasi dan hanya menerima yang sesuai atau konsisten dengan skema kita saja (Baron&Byrne, 2009). Dalam Fenomena Korean Wave ini para penggemar benar-benar menggunakan skemanya sehingga informasi yang konsisten,yaitu informasi mengenai artis atau boyband pujaan mereka menjadi dengan mudahnya masuk.

Atribusi: Memahami Perilaku Orang Lain
Dalam hal memahami perilaku orang lain kita tidak hanya ingin tahu bagaimana orang berperilaku. Kita juga ingin tahu mengapa orang berperilaku demikian(Baron&Byrne, 2009). Intinya kita akan berusaha mencarai tahu banyak hal tentang orang lain apalagi yang kita sukai. Hal ini disebut atribusi.
Setelah menerima suatu informasi mengenai artis idolanya, si penggemar ini akan terus berusaha mengumpulkan perilaku atau serita-cerita lain mengenai idolanya ini sehingga benar-benar melekat di pikiran. Figur yang dibangun oleh media, yang menampilkan sosok yang keren, ganteng, kreatif, bertalenta adalah sifat-sifat yang menonjol. Oleh karena itu para penggemar langsung menangkap itu sebagai trait utama mereka dan semakin menggemari mereka.

Pembelajaran Melalui Observasi
Proses ini terjadi ketika individu mempelajari bentuk tingkah laku atau pemikiran baru hanya dengan mengobservasi tingkah laku orang lain (Baron&Byrne, 2009). Untuk para penggemar Korean pop ini mereka cukup dengan mengobservasi perilaku para idola mereka secara intens dan langsung menyukainya. Selain karena ketertarikan fisik, tren juga menjadi sebab utama. Menurut teori ini penggemar tidak hanya berhenti pada menyukainya saja, tetapi juga meniru perilaku idola mereka. Sedangkan hal yang diiru banyak sekali, mulai dari bahasa, cara berpakaian, dan gaya hidup lainnya. Tak jarang kemudian apabila bisnis mode baju ala korea dan kuliner korea serta aksesoris korea kini menjamur.

Ketertarikan Interpersonal
Hal ini merujuk pada suatu sikap mengenai orang lain. Dalam hal ini ada pula teori repeated exposure. Menurut teori ini paparan berulang terhadap suatu stimulus baru biasanya akan berakibat pada evaluasi yang semkin positif terhadap stimulus tersebut(Baron&Byrne, 2009). Selain itu ada pula teori yang menjelaskan bahwa reaksi terhadap karakteristik superficial terjadi cukup sering, taanpa peduli betapa tidak nalarnya reaksi tersebut. Hal ini kemudian disebut daya tarik fisik.
Dalam hal ini ketertarikan antara remaja penggemar Korean Pop atau Korean Drama memang bukan ketertarikan timbal balik. Namun, hal itu tidak berpengaruh apa-apa nyatanya penggemar mereka semakin banyak bahkan hingga jutaan di seluruh penjuru dunia. Teori yang bisa menjelaskan ini adala teori daya tarik fisik atau reaksi terhadap karakteristik superficial. Jadi dalam pandangan teori ini para penggemar bisa sedemikian tertarik dan histerisnya terhadap artis Korea karena daya tarik yang nampak mulai dari, yang pertama, fisik. Secara fisik atau ketampanan, konsep ketampanan ala korea memang telah melanda remaja Indonesia. Bahkan dalam diskusi singkat dengan teman-teman penggemar korea mereka menginginkan pasangan hidup dengan standar artis Korea. Kedua, daya tarik terletak pada kebaruan akan tren music dan dance ala Korea yang secara total ditampilkan oleh artis-artis Korea terutama Boyband dan Girlband. Selain itu dari segi drama juga tayangan lokal kurang memiliki daya tarik karena cerita yang monoton. Dari segi tema drama Korea yang romantic dan dramatis juga benar-benar disukai oleh remaja putri Indonesia karean faktor usia. Pada umumnya remaja memang suka bila disuguhi tema-tema romantic apalagi dalam kemasan yang menarik dan segar serta penuh kreativitas. Hal itu menjadi daya tarik sendiri akan seni hiburan Korea.

Konsep Self
Konsep self adalah kumpulan keyakinan dan persepsi diri mengenai diri sendir yang terorganisasi. Konsep self bekerja sebagai skema dasar(Baron&Byrne, 2009). Bagian dari siapa kita dan bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri ditentuka oleh identitas kolektif yang disebut sebagai social self (Santrock, 2008). Self social terdiri dari dua komponen: berasal dari hubungan interpersonal dan berasal dari keanggotaan pada kelompok yang lebih besar.Tokoh panutan dapat member inspirasi bagi individu untuk menghasilkan harapan yang spektakuler dan prestasi dalam hubungannya dengan self mereka di masa yang akan datang.
Self concept  merupakan hal yang mendasar bagi kepribadian seseorang karena menjadi dasar seseorang menilai dirinya baik dengan idealitanya sendiri maupun dengan orang lain. Identitas kolektif juga ditentukan oleh sosialnya (Santrock, 2008).. Budaya juga mempengaruhi, dalam hal ini budaya yang merebak adalah budaya Korea sehingga yang mendominasi adalah tentunya style ala Korea. Konsep diri secara fisik seperti ketampanan dan kecantikan ala korea juga mendominasi. Bahkan bukan tidak mungkin internalisasi nilai moral ala Korea juga mulai disebarkan lewat berbagai tayangan seni hiburan Korea. Apalagi remaja ada dalam proses pencarian jati diri yang senang mengeksplor diri dengan mencoba segala sesuatu. Namun budaya kolektif dan kedekatan dengan teman-teman juga menyebabkan kesamaan pilihan-pilihan role model yang diacu.
Remaja juga melakukan pembentukan Self Konsep dengan perbandingan social. Beberapa ahli perkembangan meyakini bahwa remaja, dibandingkan dengan anak-anak, lebih sering menggunakan perbandingan social untuk mengevaluasi diri mereka sendiri.
Ketika remaja mengeksplorasi dan mencari identitas budayanya, remaja seringkali bereksperimen dengan peran-peran yang berbeda. Dukungan teman sebaya merupakan hal yang penting dibandingkan dengan dukungan orang tua di masa remaja akhir (Santrock, 2008).. Oleh karena itu faktor yang dominan berpengaruh terhadap remaja adalah teman-teman. Dalam hal ini klub penggemar-penggemar artis Korea juga menjadi manifestasi akan kebersamaan bersama teman-teman. Sehingga satu kelompok gadis-gadis penggemar Korea juga akan memiliki kesamaan perilaku yang sama yaitu menonton drama,menyanyi lagu korea, style baju hingga selera terhadap lawan jenis akan sangat mungkin sama.
                 
Bab IV Penutup
            Menggejalanya fenomena Korean Wave secara psikologis bisa dijelaskan dengan teori kognisi social mengenai bagaimana informasi diolah dan selanjutnya melekat terus menerus dalam benak individu dan termanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku. Proses observasi yang dilakukan oleh para penggemar Korean drama atau Korean Pop secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi beberapa hal mulai dari style baju, life style, karakteristik pasangan hidup hingga ketertarikan akan bahasa Korea.
Ketertarikan pada artis Korea bukanlah ketertarikan interpersonal timbale balik melainkan ketertarikan satu arah. Di mana penggemar tertarik ke arah artis pujaan. Namun, ketertarikan ini tetap sedemikian besarnya dan menimbulkan hysteria karean artis-artis ini memeilik daya tarik fisik akan karakteristik superficial yang begitu besar.
Kebesaran daya tarik ini disebabkan oleh dua faktor yakni internal dan eksternal. Internalnya adalah karena kepribadian remaja yang masih belum stabil sehingga masih mencari-cari role model yang diinginkan. Hebatnya gelombang Korean Wave mau tak mau juga melanda kepribadian mereka. Selain itu kebutuhan akan pertemanan pada remaja juga menyebabkan banyaknya komunitas-komunitas penggemar artis Korea. Dari segi eksternal menggejalanya Fenomena Korean Wave juga karena industri music atau drama yang terus menerus mengimpor seni hiburan asal Korea sehinnga terus menerus terngiang dalam benak para remaja.
Dari uraian tersebut bisa jelas dibaca bahwa pembentukan konsep diri juga secara otomatis dipengaruhi oleh Korean Wave. Hal itu disebabkan remaja terus mencari role model ideal yang diinginkan dan seringkali terpengaruh atas tren yang ada. 

tugas kuliah saya... :)

Minggu, 29 April 2012

Mahasiswa dan Dunia Malam: Sebuah Pilihan dan Tanggung Jawabnya


Walaupun budaya barat telah  lama masuk dan mempengaruhi budaya lokal, dunia malam masih menjadi perilaku yang dipandang negatif. Mahasiswa dengan kebiasaan berkunjung ke klub malam  pun ikut dicap negatif. Dekatnya persepsi antara klub malam dan perilaku negatif remaja salah satunya disebabkan oleh media. Di sinetron atau film klub malam  sering untuk setting cerita negatif. Berita kriminal sering menampilkan tertangkapnya pelaku kejahatan di klub malam. Padahal tidak semua klub malam negatif, Begitu pula, tidak semua pengunjung klub malam memiliki perilaku negatif.
Berkunjung ke klub malam, kampus, atau tempat ibadah sekalipun adalah pilihan. Masalah perilaku negatif yang muncul adalah masalah kegagalan seseorang dalam memenuhi tanggung jawabnya. Bila mahasiswa sering ke klub malam lalu melupakan tugasnya sebagai pelajar dan anggota masyarakat itu adalah hal negatif. Begitu juga jika seorang mahasiswa terlalu sering ke tempat ibadah sehingga melupakan tugasnya sebagai pelajar dan anggota masyarakat, hal itu juga negatif.  Semua tergantung pada penyesuaian diri kita dengan pilihan kita sehingga tidak melupakan kewajiban kita sebagai manusia yang bermasyarakat.

Hanya Untuk Sebuah Kehidupan



Tak perlu dipungkiri atau dirasionalisasikan, jaman memang makin sulit. Terakhir tersiar kabar harga BBM akan dinaikkan. Demo pun meluap di mana-mana dengan seninya sendiri, ricuh atau tak ricuh. Semua itu  muncul karena adanya keinginan untuk mempertahankan hidup dan untuk melawan sesuatu yang mengancam. Pun begitu mereka para supir kopata, metromini, dan angkutan umum lain di Ibu Kota. Tuntutan ekonomi yang semakin tinggi tanpa disertai dengan perkembangan kualitas hidup membuat rakyat menengah ke bawah semakin tergencet.
Termasuk para penarik angkutan umum. Kebutuhan akan biaya makan, sekolah yang ternyata tak bebas biaya sebagaimana dijanjikan, persaingan dengan angkutan lain yang sebenarnya juga senasib, ditambah tuntutan kejar setoran. Itu semua membuat mereka mau tak mau mempercepat laju kendaraannya. Kata orang seperti setan.
Mungkin benar, tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tetap mencoba berdaya di tengah himpitan setan-setan berwujud manusia yang memotong dana sana sini sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit yang menindih nafas mereka. Mereka hanya manusia, pandanglah dengan lebih arif dan bijaksana. Mereka hanya ingin hidup dengan baik tanpa mencuri atau merampok.
Jika kita memang peduli ingatkanlah. Jika tidak mau mengingatkan, lupakanlah saja dan pilih kendaraan lain tanpa mengumpat mereka.

Sekilas Kenampakan Pendidikan Indonesia


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Paramadina dan juga berdasar penelitian oleh Organization for Economic Cooperation and Development didapatkan data bahwa kualitas pendidikan di Indonesia memang berada pada urutan kedua paling bawah pada tahun 2004. Walaupun saat ini kita menempati posisi yang rendah namun kita harus tetap melakukan banyak perubahan dengan penuh rasa optimis. Sebagai contoh adalah Amerika Serikat. Ketika itu Rusia sudah mampu meluncurkan pesawat ke bulan sedang Amerika belum. Momen itu digunakan Amerika untuk memicu kemajuan pendidikan di Amerika.
Dalam konteks yang lebih mikro Indonesia sebenarnya mempunyai beberapa pahlawan. Pahlawan-pahlawan itu adalah mereka yang memenangi lomba-lomba sains internasional. Beberapa dari mereka yang pertama adalah yang memenangkan medali emas perak dan perunggu pada lomba International Physic Olympiad ke 40 di Merida Meksiko pada Juli 2009. Selanjutnya pada lomba International Conference of Young Scientists (ICYS) ke- 16 pada April 2009 dengan perolehan 6 medali emas. Beberapa urutan kualitas Indonesia dibandingkan negara lain antara lain adalah sebagai berikut. Nomor tiga terendah untuk kualitas kompetensi matematika. Nomor dua terendah untuk kompetensi membaca dll.

Belajar dari Finlandia
            Untuk memperoleh kembali semangat perubahan atas pendidikan Indonesia kita mungkin bisa belajar dari Finlandia. Finlandia mempunyai beberapa point yang menjadi pemicu baiknya kualitas pendidikan di sana yaitu:
a.       Anggaran pendidikan mendapat prioritas utama.
b.      Kegiatan sekolah di Finlandia hanya 30 jam per minggu, berarti hanya 6 jam perhari. Interaksi keluarga dianggap penting di sana.
c.       Negara dan rakyat Finlandia menempatkan guru sebagai profesi terhormat dan mereka yang menyandang profesi itu mendapat prestise dan kebanggaan tersendiri.
d.      Buku teks yang dirancang sangat aplikatif dan hampir semua guru menjadi penulis, minimal penulis buku pelajaran yang mereka gunakan di kelas.
e.       Guru adalah penilai terbaik sehingga mereka bertanggung jawab penuh terhadap nilai murid-murid. Moto guru Finlandia adalah “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya.”
f.       Guru menghindari memberi kritik terhadap pekerjaan siswa, tetapi mengajak mereka untuk membandingkan dengan perolehan sebelumnya (konsep ipsative).
g.      Proses belajar mengajar berlangsung dua arah.
h.      Penekanan belajar focus pada proses bukan hasil.
Secara kasar dapat terlihat bahwa point-point tadi sangat berbeda  dengan pengajaran di Indonesia. Beberapa yang berbeda misalnya di Indonesia nilai sangat penting, belajar lebih lama, anggaran pendidikan bukan prioritas utama, dll.

Kompetensi Guru untuk Pendidikan yang Lebih Baik
            Untuk membangun pendidikan yang baik di Indonesia pemerintah dengan PP no 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang mengharuskan mempunyai empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi profesionalisme, dan kompetensi social.
a.       Kompetensi Pedagogi adalah kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
b.      Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa- yang akan menjadi teladan bagi peserta didik—serta berakhlak mulia.
c.       Kompetensi professional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing siswa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
d.      Kompetensi social adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif di antara peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua wali dan masyarakat sekitar.

Cuplikan pidato Miriam Kronish, Kepala Sekolah SD John Eliot 1988-2002, Needham, Massachusetts Amerika Serikat—sekolah terbaik di Amerika.
“Masa depan pendidikan Amerika ditentukan oleh sebuah kekuatan. Jika saja kami punya kekuatan, kekuatan tersebut adalah program utama di sekolah kami, yaitu pelatihan guru . Guru tidak hanya cukup membaca metode-metode belajar-mengajar terbaru. Guru harus dilatih, seperti halnya actor atau penyair yang perlu berlatih. Setelah itu guru baru bisa mengajarkannya kepada orang lain. Guru professional adalah gelombang masa depan Amerika….”

Di Indonesia sendiri menurut Ahmad Rizal, seorang pemerhati pendidikan, dalam bukunya yang berjudul Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional (Grasindo, 2009) mengatakan bahwa banyak guru yang secara mental tidak siap dilatih, bahkan jumlahnya cukup besar. Menurut Rizal, guru seperti itu baru bekerja setelah diperintah dan lebih mementingkan hak terlebih dahulu sebelum melaksanakan kewajiban.

Meyakini Kemampuan Siswa
            Memahami setiap siswa dengan segala perbedaannya memang bukan hal mudah. Namun, bukan berarti itu hal yang tidak mungkin. Meyakinkan guru bahwa setiap siswa punya gaya belajar masing-masing adalah hal yang sulit. Kebanyakan guru langsung menjudge siswa gagal ketika tidak memahami materi atau salah menjawab. Bobbi DePorter, seorang pakar Quantum Learning, menyatakan bahwa topic yang paling sulit adalah mengubah kebiasaan buruk guru yang selalu menyalahakan anak didik atau bahkan merendahkan anak didik. Padahal seorang anak yang direndahkan apalagi di depan teman-temannya akan mengalami cognitive  shut down yaitu suatu keadaan di mana anak tidak mempunyai kepercayaan dirinya lagi untuk menunjukkan kemampuannya di depan kelas karena sebelumnya telah divonis salah  oleh guru.

Pentingnya Manajemen Sekolah
            Manajemen sekolah merupakan hal yang penting dan juga bagaikan jantung dari sekolah. Membentuk manajemen professional merupakan langkah awal yang penting dalam awal mendirikan sekolah. Manajemen sekolah disebut dengan content dan context system. Content dan context  itu antara lain adalah
a.       Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah
b.      Ketua Yayasan dan Direktur Sekolah
c.       Direktur Sekolah dan Kepala Sekolah
Satu hal yang perlu ditekankan adalah pentingnya pelatihan bagi guru sebab guru juga manusia pembelajar yang harus mampu menyesuaikan diri dengan siswa yang beragam dan kondisi zaman yang terus berubah.disari8kan dari buku sekolahnya manusai